NEWS SUMMARY:
- Analisis Prof. Anthony Budiawan menilai konflik Timur Tengah dapat mempercepat tekanan ekonomi Indonesia yang sudah menghadapi masalah struktural serius.
- Ketergantungan impor minyak 600–800 ribu barel per hari meningkatkan risiko inflasi, defisit fiskal, serta pelemahan stabilitas ekonomi nasional.
- Kebijakan konsumsi jangka pendek dan distribusi manfaat sumber daya alam dinilai belum cukup memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
INDONESIA24JAM.COM - Mengapa ancaman ekonomi Indonesia justru berasal dari dalam negeri sendiri?
Apakah konflik global hanya mempercepat krisis yang sebenarnya sudah lama terbentuk?
Struktur Ekonomi Indonesia Dinilai Rentan Hadapi Guncangan Global Berkepanjangan
Di tengah meningkatnya konflik Iran dan Amerika Serikat, sejumlah ekonom menilai Indonesia menghadapi risiko ekonomi serius akibat kelemahan struktural domestik.
Prof. Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), menyebut eskalasi geopolitik hanya mempercepat tekanan yang sebenarnya sudah lama muncul.
Ia menyampaikan hsl tersebut lewat wawancara di akun youtube dengan topik "Eskalasi Perang Iran - Amerika, Bikin Ekonomi Indonesia Berbahaya?" di SinKos Studio.
Ia mengatakan narasi fundamental ekonomi kuat perlu diuji kembali karena indikator produktivitas, industrialisasi, dan ketahanan energi menunjukkan tren pelemahan bertahap.
Baca Juga: Investigasi Tambang Pulau Gebe Ungkap Risiko Konflik Kepentingan dalam Ekspansi Industri Nikel
Menurutnya, guncangan eksternal seperti konflik Timur Tengah dapat menjadi pemicu koreksi ekonomi besar apabila reformasi struktural tidak segera dilakukan.
Penurunan Kontribusi Industri Manufaktur Jadi Alarm Serius Perekonomian Nasional
Prof. Anthony menjelaskan sektor manufaktur Indonesia mengalami penurunan signifikan selama dua dekade terakhir sehingga daya tahan ekonomi ikut melemah.
Kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto yang pernah mencapai 30 persen kini tersisa sekitar 18 hingga 19 persen.
Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam dan Malaysia yang terus meningkatkan produktivitas industri nasional.