NEWS SUMMARY:
- High Shareholding Concentration diumumkan sebagai sistem peringatan dini risiko konsentrasi kepemilikan saham
- Kebijakan free float 15 persen dorong likuiditas dan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global
- Transparansi pasar saham Indonesia meningkat signifikan lewat kebijakan baru OJK sejak Maret hingga April 2026
INDONESIA24JAM.COM - Apakah proyeksi perlambatan ekonomi Indonesia benar-benar tak terhindarkan di tengah konflik global?
Ataukah keunggulan sumber daya alam justru menjadi kunci menjaga pertumbuhan tetap stabil?
Proyeksi Ekonomi Indonesia Diperdebatkan di Tengah Tekanan Global Energi
Perbedaan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencuat setelah Bank Indonesia memperkirakan angka 4,7 persen pada 2026, di bawah target pemerintah 5,4 persen.
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai proyeksi tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan kekuatan struktural ekonomi domestik yang masih solid.
Ia menyebut konflik Timur Tengah memang menekan rantai pasok energi global, namun dampaknya tidak seragam bagi setiap negara.
Komoditas Ekspor Jadi Penyeimbang Dampak Krisis Energi Dunia Saat Ini
Eddy menjelaskan Indonesia memiliki keunggulan sebagai eksportir komoditas energi dan mineral yang justru diuntungkan saat harga global meningkat.
Baca Juga: Perdagangan Indonesia Rusia Naik 12 Persen, BRICS Jadi Katalis Kerja Sama Ekonomi Baru Global
Komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, nikel, dan timah disebut mengalami apresiasi harga yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini memberikan bantalan terhadap tekanan eksternal yang dihadapi perekonomian nasional akibat ketidakpastian global.
Ketahanan Energi Domestik Kurangi Risiko Gangguan Industri dan Rumah Tangga
Menurut Eddy, ketergantungan rendah terhadap impor energi menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas sektor industri dan rumah tangga.
Ia menyebut pasokan listrik nasional relatif aman karena berbasis pada sumber energi domestik seperti batu bara dan gas.
“Indonesia menggunakan batu bara dan gas dari dalam negeri untuk sektor pembangkit tenaga listrik,” kata Eddy Soeparno.