ekonomi

Proyeksi BI 4,7 Persen Dipertanyakan, Ekonomi Indonesia Disebut Masih Berpeluang Tumbuh Lebih Tinggi Tahun Ini

Rabu, 15 April 2026 | 11:20 WIB
Kebijakan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan membuka data pemegang saham besar dinilai meningkatkan kepercayaan investor global (Dok. Instagram @eddy_soeparno)

 NEWS SUMMARY:

  • Kebijakan free float 15 persen dorong likuiditas dan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global
  • Transparansi pasar saham Indonesia meningkat signifikan lewat kebijakan baru OJK sejak Maret hingga April 2026
  • OJK buka data pemegang saham besar dan Ultimate Beneficial Owner untuk kurangi praktik tersembunyi di pasar

INDONESIA24JAM.COM - Apakah proyeksi perlambatan ekonomi Indonesia benar-benar tak terhindarkan di tengah konflik global?

Ataukah keunggulan sumber daya alam justru menjadi kunci menjaga pertumbuhan tetap stabil?

Proyeksi Ekonomi Indonesia Diperdebatkan di Tengah Tekanan Global Energi

Perbedaan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencuat setelah Bank Indonesia memperkirakan angka 4,7 persen pada 2026, di bawah target pemerintah 5,4 persen.

Baca Juga: Tiga Strategi Utama ASEAN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Stabilitas Kawasan di Tengah Tekanan Global

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai proyeksi tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan kekuatan struktural ekonomi domestik yang masih solid.

Ia menyebut konflik Timur Tengah memang menekan rantai pasok energi global, namun dampaknya tidak seragam bagi setiap negara.

Komoditas Ekspor Jadi Penyeimbang Dampak Krisis Energi Dunia Saat Ini

Eddy menjelaskan Indonesia memiliki keunggulan sebagai eksportir komoditas energi dan mineral yang justru diuntungkan saat harga global meningkat.

Baca Juga: Perdagangan Indonesia Rusia Naik 12 Persen, BRICS Jadi Katalis Kerja Sama Ekonomi Baru Global

Komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, nikel, dan timah disebut mengalami apresiasi harga yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi ini memberikan bantalan terhadap tekanan eksternal yang dihadapi perekonomian nasional akibat ketidakpastian global.

Ketahanan Energi Domestik Kurangi Risiko Gangguan Industri dan Rumah Tangga

Menurut Eddy, ketergantungan rendah terhadap impor energi menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas sektor industri dan rumah tangga.

Baca Juga: Kegagalan Negosiasi AS - Iran Jadi Sinyal Bahaya, Indonesia Diminta Perkuat Strategi Hadapi Dampak Global

Ia menyebut pasokan listrik nasional relatif aman karena berbasis pada sumber energi domestik seperti batu bara dan gas.

“Indonesia menggunakan batu bara dan gas dari dalam negeri untuk sektor pembangkit tenaga listrik,” kata Eddy Soeparno.

Halaman:

Tags

Terkini