INDONESIA24JAM.COM - Apakah kekayaan terbesar abad ke-21 bukan lagi minyak, emas, atau teknologi, melainkan hutan yang tetap berdiri dan mampu menyerap karbon dunia?
Mengapa semakin banyak miliarder global justru menghabiskan dana triliunan rupiah untuk membeli lahan luas demi konservasi, bukan eksploitasi?
Tren pembelian lahan luas untuk konservasi dan reboisasi semakin menguat pada Desember 2025, seiring meningkatnya perhatian global terhadap krisis iklim dan net-zero emissions.
Baca Juga: Harga Minyakita Tembus Rp18.000, 2 Korporasi Produsen Diduga Langgar Aturan HET Rp15.700
Sejumlah miliarder dunia membeli ribuan hingga jutaan hektare tanah bukan untuk pengembangan komersial.
Melainkan untuk dijadikan hutan lindung, kawasan konservasi, dan aset karbon jangka panjang.
Pendekatan ini menempatkan hutan sebagai natural capital, yakni aset alam yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat ekologis berkelanjutan.
Baca Juga: Jejak 7 Korporasi dan Dana Asing Perbankan Tiongkok Berada di Balik Rusaknya Batang Toru
Nama-Nama Miliarder yang Menguasai Jutaan Hektare Lahan Hijau
Johan Eliasch, pengusaha asal Swedia dan Ketua International Biathlon Union hingga 2023, membeli sekitar 400.000 hektare hutan Amazon Brasil sejak 2005 untuk mencegah deforestasi.
Melalui Rainforest Trust, Eliasch mendukung perlindungan lebih dari 38 juta hektare hutan dunia, sebagaimana tercatat di situs resmi rainforesttrust.org.
Hansjörg Wyss, miliarder Swiss pendiri Wyss Foundation, mengalokasikan lebih dari Dolar AS 1,5 miliar untuk melindungi 30 persen daratan dan lautan dunia pada 2030.
Baca Juga: Kontrak Rp8,22 Triliun Hingga 2030, BUMA Perkuat Posisi di Tambang Batu Bara Blackwater Australia
Ted Turner, pendiri CNN, mengelola sekitar 2 juta hektare lahan di Amerika Serikat untuk restorasi ekosistem dan konservasi bison, menurut laporan Forbes.
Rewilding dan Konservasi Sebagai Strategi Jangka Panjang
Anders Holch Povlsen, pemilik korporasi fashion internasional, menjadi pemilik lahan swasta terbesar di Skotlandia dengan visi rewilding dataran tinggi.
Artikel Terkait
Isu Perselingkuhan Dipatahkan, Ini Data Resmi Perceraian Atalia Praratya dan Ridwan Kamil
Otoritas Jasa Keuangan Umumkan Whitelist Kripto 2025, Publik Diminta Waspada Platform Ilegal
Nilai Rp2,39 Triliun dan 18 Tahun Kontrak, ELPI Perkuat Posisi di Bisnis Offshore Energi
Demokrasi Mahal dan Artificial Intelligent Politik: Biaya Pilkada Rp73 Triliun Jadi Sorotan Akademisi
Pilkada Langsung Dinilai Tak Efisien, Akademisi Ungkap Ancaman Artificial Intelligent dan Buzzer Politik
Tambang Blackwater Jadi Andalan, Anak Usaha BUMA Raih Kontrak Jangka Panjang Rp8,22 Triliun
Data WALHI: Perbankan Tiongkok Dominasi Pembiayaan Proyek Perusak Ekosistem Sumatera
7 Korporasi, 1 DAS Kritis, dan Dana Asing di Balik Bencana Batang Toru Pendanaan Tiongkok dan Krisis
HET Rp15.700 Dilanggar, 2 Korporasi Diduga Biang Kerok Penyebab Lonjakan Harga Minyakita
Hashim Bantah Isu 100 Ribu Hektare Sawit: LHKPN Catat Presiden Prabowo Nol Lahan Perkebunan