INDONESIA24JAM.COM - Mengapa distribusi cabai kerap menjadi titik lemah ketahanan pangan nasional, padahal produksi mencukupi?
lBagaimana pemerintah memastikan pasokan tetap lancar saat cuaca ekstrem melanda sentra pertanian?
Fluktuasi harga cabai di akhir 2025 kembali menegaskan pentingnya penguatan distribusi pangan nasional di tengah tantangan cuaca ekstrem dan tingginya mobilitas konsumsi masyarakat.
Baca Juga: Bukan Isu Viral di Medsos: PA Bandung Tegaskan Gugatan Cerai Atalia Praratya Masuk Jalur Hukum
Badan Pangan Nasional atau Bapanas menilai persoalan utama bukan pada produksi, melainkan kelancaran distribusi dari daerah sentra ke wilayah konsumsi.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyebut musim hujan berdampak langsung pada ritme panen dan distribusi cabai.
Distribusi Cabai Terhambat Faktor Cuaca dan Infrastruktur
Curah hujan tinggi menyebabkan petani menunda panen karena risiko penurunan kualitas hasil hortikultura.
Baca Juga: Dugaan Tambang Emas Ilegal di Komodo, KPK Temukan Bukaan Lahan Di Zona Penyangga Wisata Dunia
Kondisi tersebut berdampak pada pasokan jangka pendek, terutama di kota besar yang bergantung pada distribusi antardaerah.
Bapanas melakukan pemantauan harian secara nasional untuk memastikan pasokan tetap terjaga.
Kerja Sama Antar Daerah Jadi Solusi Jangka Menengah
Bapanas mendorong penguatan kerja sama antardaerah melalui skema perdagangan langsung antara pedagang dan petani.
Baca Juga: Danantara Akuisisi Hotel 1.461 Kamar di Makkah, Siapkan 5.000 Kamar untuk Jemaah Indonesia
Mobilisasi cabai dari Aceh Tengah ke Jakarta menjadi contoh konkret penguatan rantai pasok nasional.
Skema serupa tengah dijajaki dengan daerah sentra produksi di Sulawesi Selatan.
Artikel Terkait
Setelah 338 Warga Meninggal, Sumatera Utara Dibayangi Hujan Lebat Akibat Bibit Siklon 91S
PBNU Tetapkan Pejabat Ketua Umum, Salurkan Bantuan Rp2 Miliar Untuk Korban Bencana di Sumatera
Perambahan Gambut Kian Parah, Hampir 100 Hektare Sawit Ilegal Ditertibkan di TN Berbak
Kejagung Kejar Aset Kasus Sritex, Hotel Ayaka Suites Disita Demi Pemulihan Kerugian Negara
Skandal Dugaan Akses Ilegal, Dana Nasabah Sebesar Rp 71 Miliar Raib di Korporasi Sekuritas Termama
Puluhan Hektare Hutan Lindung Gowa Rusak, Aliran DAS Jeneberang Terancam Banjir dan Sedimentasi
Ekonomi Rp32 Ribu Triliun, Hashim Djojohadikusumo Sebut Rp7.000 Triliun Tak Tercatat dan Rugikan Negara
Ekspansi Global Danantara: Akuisisi Hotel dan Ambil Alih Lahan Seluas 4,4 Hektare di Jantung Makkah
Gugatan Cerai Atalia Praratya Terdaftar, PA Bandung Tegaskan Proses Hukum Bukan Isu Medsos
KPK Cium Tambang Emas Ilegal di Pulau Sebayur, 1 Kawasan Penyangga TN Komodo Jadi Sorotan