INDONESIA24JAM.COM - Apakah arah kebijakan fiskal Indonesia masih mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global yang meningkat tajam saat ini?
Mengapa pergantian Menteri Keuangan yang diharapkan membawa akselerasi justru memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar dan investor domestik?
Transisi Menteri Keuangan Diuji Realitas Ekonomi Global yang Kian Kompleks
Harapan percepatan ekonomi setelah pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati kepada Purbaya Yudhi Sadewa kini menghadapi ujian realitas fiskal yang dinilai semakin berat.
Baca Juga: Pemerintah dan Petani Hutan Bersihkan Sawit Ilegal Demi Masa Depan Ekosistem Mangrove Sumut
Analis ekonomi dari Menteng Kleb, Kusfiardi, menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 sebesar 5,1 persen masih berada di bawah target pemerintah 5,7 persen.
Menurut Kusfiardi, strategi belanja agresif pemerintah belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor riil di tengah tekanan inflasi pangan dan energi.
Defisit Anggaran dan Beban Utang Jadi Sorotan Pelaku Pasar
Kusfiardi menilai ruang fiskal Indonesia semakin terbatas setelah defisit APBN 2026 mendekati batas aman di level 2,92 persen terhadap produk domestik bruto.
Ia menjelaskan beban subsidi energi meningkat akibat harga minyak dunia, sementara pembayaran bunga utang negara telah mencapai sekitar Rp500 triliun.
Menurut Kusfiardi, kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor karena anggaran negara dinilai lebih banyak terserap belanja rutin dibandingkan investasi produktif jangka panjang.
Koordinasi Stabilitas Keuangan Dinilai Belum Merespons Risiko Geopolitik Cepat
Menteng Kleb juga menyoroti peran Menteri Keuangan sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan yang dinilai belum menunjukkan koordinasi responsif terhadap tekanan global.
Baca Juga: Indonesia Berduka, Tiga Prajurit TNI Gugur Saat Jalankan Tugas Perdamaian PBB di Lebanon
Kusfiardi menyatakan eskalasi konflik geopolitik global berdampak terhadap pelemahan rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.002 per Dolar AS.
Ia juga menyebut koreksi indeks saham domestik menunjukkan pasar membutuhkan sinyal stabilitas kebijakan yang kuat dari otoritas fiskal dan sektor keuangan.
Artikel Terkait
KPK Selidiki Dugaan Kebocoran Penerimaan Negara dari Sektor Cukai Rokok, Pengusaha Mulai Dipanggil
Penyidikan Korupsi Cukai Rokok DJBC Berlanjut, KPK Fokus Bongkar Dugaan Praktik Rokok Ilegal Nasional
Serangan Terhadap Prajurit UNIFIL Jadi Sorotan, Indonesia Tekankan Standar Keamanan Baru Misi Perdamaian
Mengungkap Sejarah Nama Pulau Kharg Hingga Menjadi Infrastruktur Energi Penting Iran Modern Saat Ini
Pulau Kharg dari 'Mutiara Yatim Teluk Persia' Menjadi Simbol Strategi Energi Iran Kontemporer Global
Rumors Kesehatan Donald Trump Dibantah Gedung Putih di Tengah Ketegangan Konflik Amerika Serikat dan Iran
Benarkah Donald Trump Dirawat Rahasia, Gedung Putih Beri Klarifikasi Soal Isu Kesehatan Presiden AS
Harga Minyak Dunia Terancam Naik Akibat Konflik Selat Hormuz, Bagaimana Investor Harus Menyikapi
Dinamika Konflik Timur Tengah 2026 dan Pengaruhnya Terhadap Opini Publik Muslim, Termasuk Indonesia
Defisit APBN Tetap Aman Meski Belanja Negara Naik, Pajak Jadi Penopang Fiskal Indonesia Awal Tahun 2026