INDONESIA24JAM.COM - Mengapa kasus demam berdarah dan malaria meningkat di wilayah bekas hutan tropis?
Apakah deforestasi diam-diam mempercepat penyebaran penyakit mematikan yang kini mendekati permukiman manusia?
Deforestasi Picu Lonjakan Populasi Nyamuk Pembawa Penyakit Berbahaya di Indonesia
Pakar entomologi dari IPB University mengingatkan deforestasi memicu ledakan populasi nyamuk pembawa penyakit yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
Baca Juga: Sebanyak 38 Saham Disuspensi Bursa Efek Setelah Sorotan MSCI Terkait dengan Free Float Emiten
Dalam penjelasan resmi pada Jumat (13/02/2026), Prof. Upik Kesumawati Hadi menyatakan kerusakan hutan mendorong nyamuk beralih mencari inang baru berupa manusia di sekitar kawasan bekas hutan.
Pernyataan ini menegaskan hubungan kuat antara perubahan lingkungan dan peningkatan risiko penyakit tular vektor seperti demam berdarah serta malaria yang masih endemis.
Perubahan Habitat Satwa Liar Mengubah Pola Penularan Penyakit Menular
Deforestasi menyebabkan nyamuk kehilangan inang alami seperti satwa liar yang sebelumnya menjadi sumber darah utama dalam ekosistem hutan tropis.
Baca Juga: Audit Negara Ungkap Mark Up Rp1,91 Triliun dan Risiko Proyek Pupuk yang Bermasalah
Prof Upik Kesumawati Hadi menjelaskan bahwa kondisi ini memicu fenomena host switching ketika nyamuk beralih menggigit manusia sebagai sumber darah pengganti.
Ia menambahkan bahwa perpindahan inang tersebut meningkatkan potensi penularan penyakit karena interaksi nyamuk dan manusia menjadi lebih intensif.
Hilangnya Keanekaragaman Hayati Tingkatkan Risiko Penyakit Tular Vektor
Berkurangnya keanekaragaman hayati akibat deforestasi menghilangkan penyangga alami yang sebelumnya memperlambat siklus penularan penyakit di ekosistem hutan.
Baca Juga: Target Tinggi ROA 7% Didorong untuk Percepat Transformasi Danantara dan Efisiensi Aset Negara
Tanpa keberadaan hewan liar sebagai penghambat alami, rantai penularan penyakit dari nyamuk ke manusia menjadi lebih cepat dan sulit dikendalikan.
Prof Upik menegaskan bahwa hilangnya fungsi ekosistem ini meningkatkan risiko wabah penyakit di kawasan yang mengalami perubahan tutupan lahan secara masif.
Artikel Terkait
Permintaan Kantor dan Logistik Naik, Properti Jakarta Diprediksi Tumbuh dengan Pasokan Baru Terbatas
Denda dan Sanksi OJK Capai Rp542,49 Miliar Upaya Pulihkan Kepercayaan Investor Pasar Modal
Polemik Izin Tambang Martabe 2026, Pemerintah Ungkap Tahap Kajian Sebelum Keputusan Final
Polemik Tambang Emas 2012 Muncul Lagi, Proses Cepat Pengalihan IUP dan Selisih Saham Jadi Perhatian
Desakan Audit IUP Tumpang Pitu Menguat, Publik Soroti Selisih Saham 15 Persen dan Proses Izin 2012
Analisis Pengamat: Tantangan PAN dan Peluang Tokoh Baru dalam Bursa Cawapres Prabowo 2029
Akuisisi VISI oleh Nagita Slavina Masih Negosiasi, Pendapatan Rp250 Miliar dan DER 0,48 Kali
120 Menit Pertemuan Luhut - MSCI, Soroti Hilirisasi Industri dan ESG untuk Menarik Investasi Global
Mentan Paparkan Strategi Swasembada Pangan dengan 500 Deregulasi dan Modernisasi Pertanian
Prabowo Sebut Efisiensi Danantara Lampaui 2024 Tantang Pengelola BUMN Raih ROA 7 Persen Segera