• Sabtu, 18 April 2026

Ahli Peringatkan Lonjakan Nyamuk di Area Deforestasi Tingkatkan Risiko Demam Berdarah dan Malaria

Photo Author
Tim 24 Jam News, Indonesia 24 Jam
- Minggu, 15 Februari 2026 | 23:30 WIB
Ilustrasi deforestasi. Perubahan inang nyamuk dari satwa liar ke manusia meningkat seiring rusaknya habitat hutan tropis di berbagai wilayah Indonesia. (Dok. Dola AI)
Ilustrasi deforestasi. Perubahan inang nyamuk dari satwa liar ke manusia meningkat seiring rusaknya habitat hutan tropis di berbagai wilayah Indonesia. (Dok. Dola AI)

INDONESIA24JAM.COM - Mengapa kasus demam berdarah dan malaria meningkat di wilayah bekas hutan tropis?

Apakah deforestasi diam-diam mempercepat penyebaran penyakit mematikan yang kini mendekati permukiman manusia?

Deforestasi Picu Lonjakan Populasi Nyamuk Pembawa Penyakit Berbahaya di Indonesia

Pakar entomologi dari IPB University mengingatkan deforestasi memicu ledakan populasi nyamuk pembawa penyakit yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Baca Juga: Sebanyak 38 Saham Disuspensi Bursa Efek Setelah Sorotan MSCI Terkait dengan Free Float Emiten

Dalam penjelasan resmi pada Jumat (13/02/2026), Prof. Upik Kesumawati Hadi menyatakan kerusakan hutan mendorong nyamuk beralih mencari inang baru berupa manusia di sekitar kawasan bekas hutan.

Pernyataan ini menegaskan hubungan kuat antara perubahan lingkungan dan peningkatan risiko penyakit tular vektor seperti demam berdarah serta malaria yang masih endemis.

Perubahan Habitat Satwa Liar Mengubah Pola Penularan Penyakit Menular

Deforestasi menyebabkan nyamuk kehilangan inang alami seperti satwa liar yang sebelumnya menjadi sumber darah utama dalam ekosistem hutan tropis.

Baca Juga: Audit Negara Ungkap Mark Up Rp1,91 Triliun dan Risiko Proyek Pupuk yang Bermasalah

Prof Upik Kesumawati Hadi menjelaskan bahwa kondisi ini memicu fenomena host switching ketika nyamuk beralih menggigit manusia sebagai sumber darah pengganti.

Ia menambahkan bahwa perpindahan inang tersebut meningkatkan potensi penularan penyakit karena interaksi nyamuk dan manusia menjadi lebih intensif.

Hilangnya Keanekaragaman Hayati Tingkatkan Risiko Penyakit Tular Vektor

Berkurangnya keanekaragaman hayati akibat deforestasi menghilangkan penyangga alami yang sebelumnya memperlambat siklus penularan penyakit di ekosistem hutan.

Baca Juga: Target Tinggi ROA 7% Didorong untuk Percepat Transformasi Danantara dan Efisiensi Aset Negara

Tanpa keberadaan hewan liar sebagai penghambat alami, rantai penularan penyakit dari nyamuk ke manusia menjadi lebih cepat dan sulit dikendalikan.

Prof Upik menegaskan bahwa hilangnya fungsi ekosistem ini meningkatkan risiko wabah penyakit di kawasan yang mengalami perubahan tutupan lahan secara masif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X