INDONESIA24JAM.COM - Bagaimana mungkin Bitcoin yang sebelumnya menembus rekor tertinggi kini tertekan hingga menyentuh level terendah tujuh bulan, dan apakah koreksi cepat ini menjadi sinyal ancaman baru.
Atau justru fase wajar dari siklus pasar yang sedang mencari keseimbangan di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian?
Harga Bitcoin turun ke US$89.000 pada 18 November 2025 ketika pasar menghadapi tekanan besar dari arus keluar ETF Bitcoin Amerika Serikat dan meningkatnya kekhawatiran kebijakan tarif global.
Baca Juga: Akuisisi Emway Perkuat Ekspansi BABY, Integrasi 40.000 Titik Distribusi dan Ritel Bayi-Anak
ETF Bitcoin AS mencatat penurunan signifikan dalam empat hari dari 441.000 BTC menjadi sekitar 271.000 BTC sehingga menambah tekanan jual.
Redemption harian lebih dari US$800 juta membuat pasar berada dalam posisi defensif karena investor memindahkan dana ke instrumen berisiko rendah.
Koreksi terjadi setelah Bitcoin gagal mempertahankan area US$92.000 sehingga memicu tekanan lanjutan ketika harga jatuh di bawah batas psikologis US$90.000.
Baca Juga: Agenda Mediasi 30 Hari Warnai Sidang Perdana Cerai Marissa Anita Setelah 17 Tahun Pernikahan
Rencana tarif hingga 500 persen oleh pemerintahan AS terhadap negara yang berdagang dengan Rusia menambah sentimen negatif bagi aset berisiko seperti kripto.
Pasar Global Menanti Kebijakan Suku Bunga The Fed
Indeks Fear & Greed bergerak ke zona extreme fear sehingga menandakan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kondisi ekonomi global.
Tekanan inflasi Amerika Serikat, pelemahan sektor otomotif, dan perlambatan properti menjadi faktor yang menahan pemulihan risiko.
Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 4,75 Persen, Peluang Penurunan Tetap Terbuka
The Fed memberi sinyal penghentian penurunan neraca dan membuka opsi operasi repo untuk menambah likuiditas sehingga mulai memberikan harapan stabilisasi pasar.
Namun pasar tetap menunggu keputusan suku bunga The Fed pada 10 Desember 2025 yang dianggap sebagai penentu arah risiko jangka pendek.
Artikel Terkait
Investigasi Baru Soroti 5 Konsesi Tambang dan Dugaan Konflik Kepentingan di Maluku Utara
Proyek Miliar Dolar AS: Tawaran Pipa Gas Jadi Fokus Pembahasan Danantara dan Yordania
Stabilitas Rupiah Tertekan: Apakah BI-Rate 4,75 Persen Cukup Menahan Tekanan Global Pada November?
Benarkah Warisan? JATAM Lacak Jejak Saham Sherly Tjoanda dalam 5 Korporasi Tambang di Maluku Utara
Data 210 Ribu Wisatawan 2024 Ungkap Kembali Relevansi Legenda Malin Kundang di Pantai Air Manis
Popularitas Purbaya: Apakah Kebijakan Fiskal Baru Cukup Mengubah Prospek Ekonomi Indonesia 2026?
Dua Tahun Menjabat: Tantangan Gubernur Sherly Tjoanda Mengelola Duka dan Tugas Pemerintahan
Data Gugatan 12 November dan Sidang 19 November: Jalan Cerai Marissa Anita Masuk Tahap Mediasi
BI Rate Terendah Sejak Oktober 2022, Bank Indonesia Pertimbangkan Pelonggaran Moneter
Ekspansi Strategis: Akuisisi Emway Dorong Diversifikasi Pendapatan dan Penguatan Margin BABY