INDONESIA24JAM.COM - Bagaimana mungkin aktivitas tambang strategis di wilayah Indonesia dapat berubah menjadi arena bentrokan bersenjata yang melibatkan warga negara asing dan aparat keamanan negara?
Insiden di Ketapang, Kalimantan Barat, membuka kembali pertanyaan serius tentang pengawasan tenaga asing, keamanan korporasi tambang, dan potensi konflik laten di sektor ekstraktif nasional.
Insiden penyerangan terjadi di area tambang emas milik korporasi PT Sultan Rafli Mandiri di Desa Pemuatan Batu, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Baca Juga: Audit Besar SDA Dimulai: Presiden Prabowo Tutup Keran Izin Tambang dan Kehutanan Sepanjang 2025
Peristiwa berlangsung pada Minggu, 14 Desember 2025, sekitar pukul 15.30 WIB, saat aparat keamanan internal dan prajurit TNI tengah melakukan patroli rutin.
Pemicu kejadian bermula dari aktivitas drone terbang rendah di area terbatas tambang yang kemudian memicu pengejaran oleh petugas keamanan dan lima prajurit TNI Yonzipur 6 Satya Digdaya.
Bentrok Melibatkan Warga Negara Tiongkok dan Aparat Keamanan
Dalam pengejaran tersebut, petugas menemukan empat warga negara Tiongkok yang berada di area terbatas tanpa penjelasan awal yang memadai.
Baca Juga: RUPSLB 15 Desember 2025: Antam Tetapkan Dirut dan Komut Baru, Ini Susunan Lengkap Pengurus
Situasi kemudian memanas setelah sebelas warga negara Tiongkok lainnya datang dan diduga melakukan penyerangan terhadap petugas keamanan dan prajurit TNI.
Para pelaku membawa senjata tajam, airsoft gun, serta alat setrum, sebagaimana dikonfirmasi aparat kepolisian setempat kepada media.
Kerusakan Aset Korporasi dan Langkah Pengamanan Situasi
Akibat insiden tersebut, satu unit mobil dan satu sepeda motor milik korporasi mengalami kerusakan berat akibat aksi perusakan.
Baca Juga: Hilirisasi Nikel Dikritik JK: Pertumbuhan 20% Daerah Tambang, Pajak Minim dan Lingkungan Rusak
Petugas keamanan memutuskan mundur secara taktis guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas dan berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Polres Ketapang memastikan situasi di lokasi telah kondusif setelah dilakukan pengamanan terpadu bersama TNI dan instansi terkait.
Artikel Terkait
Setelah 338 Warga Meninggal, Sumatera Utara Dibayangi Hujan Lebat Akibat Bibit Siklon 91S
Kejagung Kejar Aset Kasus Sritex, Hotel Ayaka Suites Disita Demi Pemulihan Kerugian Negara
Puluhan Hektare Hutan Lindung Gowa Rusak, Aliran DAS Jeneberang Terancam Banjir dan Sedimentasi
Ekonomi Rp32 Ribu Triliun, Hashim Djojohadikusumo Sebut Rp7.000 Triliun Tak Tercatat dan Rugikan Negara
Ekspansi Global Danantara: Akuisisi Hotel dan Ambil Alih Lahan Seluas 4,4 Hektare di Jantung Makkah
Gugatan Cerai Atalia Praratya Terdaftar, PA Bandung Tegaskan Proses Hukum Bukan Isu Medsos
KPK Cium Tambang Emas Ilegal di Pulau Sebayur, 1 Kawasan Penyangga TN Komodo Jadi Sorotan
Stok Aman, Harga Bergejolak: Bapanas Mobilisasi 13 Ton Cabai Harian dari Sentra Produksi
Angka Pertumbuhan Tinggi, Dampak Rendah: Kritik Jusuf Kalla Terhadap Kebijakan Hilirisasi Nikel Nasional
Angka dan Nama Baru di PT Aneka Tambang Tbk: RUPSLB 2025 Tetapkan 6 Direksi dan 6 Komisaris