Sebanyak 82 persen dialokasikan langsung kepada warga melalui kupon belanja yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pokok sehari hari.
Skema ini menjadi inovasi karena manfaat koperasi dapat dirasakan langsung oleh anggota tanpa menunggu pembagian tahunan.
"Keuntungan itu akan dibagi kepada warga desa sebanyak 82 persen dari total keuntungan dalam bentuk kupon," kata Joao.
Sisa keuntungan lainnya dialokasikan untuk operasional dan penguatan kelembagaan koperasi desa.
Masa Transisi Dua Tahun untuk Siapkan Pengurus Desa Mandiri
Program ini dirancang memiliki masa transisi dua tahun agar pengurus koperasi desa mampu menguasai sistem manajemen modern.
Joao menjelaskan fokus utama pada periode awal adalah transfer pengetahuan bisnis, digitalisasi, serta penguatan tata kelola organisasi.
Setelah periode tersebut, koperasi diharapkan mampu berjalan mandiri dengan sistem yang telah terstandarisasi.
Langkah ini diharapkan menciptakan model koperasi desa berkelanjutan yang mampu berkembang tanpa ketergantungan penuh pada pendampingan korporasi.
Dampak Ekonomi Langsung Bagi Warga dan Penguatan Konsumsi Lokal
Program ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi langsung melalui peningkatan daya beli masyarakat desa.
Distribusi kupon belanja mendorong konsumsi lokal sekaligus menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok di tingkat desa.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Jepang Gunakan Cadangan, Seberapa Efektif Stabilkan Harga Minyak Global
Selain manfaat ekonomi, program ini juga memperkuat posisi desa sebagai subjek pembangunan ekonomi nasional.