Menurut CEO Danantara, tujuan inisiatif ini adalah meningkatkan benchmark investasi yang transparan, memperluas akses investor, dan menghadirkan produk pasar modal Indonesia yang relevan secara global.
Baca Juga: Target Pajak Baru Tercapai 70 Persen, Pernyataan Purbaya Soal Pajak DPR Picu Perdebatan Komisi XI
Implikasi Bagi Pasar Modal dan Investor Ritel
Dengan pendekatan selektif seperti ini, Danantara bisa jadi memberi sinyal stabilitas bagi pasar modal nasional.
Investor ritel dan institusi mungkin melihat ini sebagai titik balik menuju investasi berdasarkan fundamental, bukan spekulasi volatil.
Di samping itu, inisiatif indeks dan ETF global bisa menarik minat investor luar negeri — meningkatkan likuiditas sekaligus daya tarik jangka panjang.
Baca Juga: Jejak 4 Transaksi Besar Rp100 M di Rekening PBNU, Dokumen Audit Pengaruhi Evaluasi Gus Yahya
Kata Mereka — Danantara Masuk Secara Hati-Hati
Ali Setiawan menegaskan bahwa korporasi tidak tergoda oleh saham “gorengan”.
“Kita tidak akan ke saham-saham gorengan atau saham yang PE-nya luar biasa,” ujarnya.
Bagi Danantara, investasi bukan soal mengejar cuan cepat, melainkan membangun portofolio yang solid, likuid, dan berjangka panjang — demi stabilitas keuangan korporasi dan masa depan pasar modal Indonesia.****
Artikel Terkait
Data 2019–2024 Ungkap Celah Bandara IMIP: Sjafrie Tegaskan Tak Boleh Ada Negara Dalam Negara
Rekor IHSG 8.602 Dicapai dalam Sehari: Mengapa Purbaya Yakin Pasar Menuju Tren 9.000?
Audit PBNU 2022 Ungkap Rp100 M Dana Masuk, Syuriyah Akui Jadi Pertimbangan Pemecatan Gus Yahya
Shortfall Pajak Meningkat, Komisi XI ‘Menekan’ dan Purbaya Ungkap Kelakar Soal Pajak Anggota DPR
Tumbler Hilang di KRL: Fakta Penting yang Memicu Polemik dan Sorotan Publik terhadap Etika Komuter
Fakta Baru Polemik PBNU: Sentilan Cak Imin, Risalah Syuriyah, dan Sikap Tegas Gus Yahya
Kasus Pajak 2016–2020: 8 Lokasi Digeledah, Dirut PT Djarum Dicegah, Dokumen & Aset Disita Kejagung
Silaturahmi Pengajian Mantan Surya di Menara Rungkut Berlangsung dengan Meriah dan Guyub
Kolaborasi 2 Jaringan Besar Hadirkan 36 Media untuk Tingkatkan Publikasi Korporasi Nasional
Polemik PBNU 26 November: Fakta Pemberhentian Gus Yahya dan Kendali di Tangan Rais Aam